Sumber ‘racun’ di sekitar kita..
Pemeriksaan rambut ratusan anak-anak dengan ASD menunjukkan bahwa 90% dari mereka mempunyai kadar logam beracun yang tinggi dalam tubuhnya. Berapa banyak dari racun itu ada dalam tubuhnya dan berapa persen berada dalam otaknya tidak diketahui.
Seberapa akuratkah pemeriksaan logam berat melalui rambut ? Itupun sulit dipastikan. Hanya saja memang pemeriksaan inilah yang ada pada saat ini, dan beberapa ahli mengatakan bahwa pemeriksaan ini cukup bisa dipercaya.
Dari sekian banyak logam berat yang bisa masuk dalam tubuh, yang merupakan racun otak yang kuat adalah terutama Merkuri (Hg) dan Timbal hitam (Pb).
Mengapa anak-anak dengan ASD mempunyai kecenderungan “menumpuk” logam-logam ini dalam tubuhnya ? Salah satu penyebabnya adalah karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membuang logam-logam tersebut dari tubuhnya.
Oleh karena itu sebaiknya para orang tua mengetahui sumber-sumber logam tersebut sehingga bisa menghindarinya.
Timbal hitam (Pb)
Timbal hitam adalah logam berwarna keabu-abuan yang secara alamiah terdapat pada lapisan tanah. Timbal hitam bisa ditemukan dimana saja di lingkungan kita, bahkan sangat banyak dipakai oleh manusia. Misalnya dalam produksi batu batere, amunisi, benda2 yang terbuat dari metal, misalnya pipa, solder, bahkan dipakai untuk lapisan pelindung terhadap sinar-X. Timbal hitam juga masih dipakai sebagai campuran dalam bensin, cat rumah, keramik, dan juga dipakai di percetakan.
Bila debu yang berisi timbal hitam terbang di udara, ia bisa terbang sangat jauh sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Begitu jatuh ke tanah ia akan menempel pada partikel-partikel tanah dan sebagian diserap oleh air tanah.
Bagaimana manusia bisa terpapar timbal hitam ?
- Tercemar makanan dan minuman yang mengandung zat tersebut.
- Berada dalam suatu bangunan tua yang catnya mulai mengelupas.
- Berada di tempat pekerjaan, dimana timbal dipakai.
- Memakai timbal untuk hobi, misalnya mewarnai kaca.
Pengaruh timbal hitam terhadap kesehatan:
Timbal mempunyai efek yang buruk terhadap semua organ tubuh. Yang paling peka adalah susunan saraf pusat, terutama pada anak-anak. Ginjal dan alat reproduktif juga sangat terpengaruh. Apakah ditelan atau dihirup pengaruhnya sama.
Pada kadar yang tinggi timbal bisa memperlambat reaksi, menyebabkan kelemahan pada jari, pergelangan tangan dan kaki, dan juga mempengaruhi daya ingat. Pada pria bisa mempengaruhi sistem reproduktif.
Bagaimana pengaruhnya terhadap anak ?
Anak kecil bisa tercemar dengan memakan benda-benda yang mengandung timbal, seperti cat yang mengelupas, tanah yang tercemar, atau menghirup udara yang terpolusi timbal.
Anak lebih peka terhadap keracunan timbal daripada orang dewasa. Menelan kadar yang cukup tinggi menimbulkan anemia, sakit perut hebat, kelemahan otot dan kerusakan otak. Pada kadar yang lebih kecilpun timbal bisa mempengaruhi perkembangan mental dan fisik anak.
Akibat paparan timbal jauh lebih berbahaya untuk bayi dan janin. Bisa menyebabkan kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan yang kurang, kemampuan mental berkurang, sedangkan pada usia sekolah ia akan mengalami kesulitan belajar dan gangguan pertumbuhan fisik. Efek seperti ini akan terlihat bila si ibu terpapar kadar timbal yang tinggi.
Cara menghindari risiko paparan timbal:
- Hindari sumber cemaran timbal.
- Jaga anak-anak supaya tidak memasukkan/mengigit-gigit sesuatu yang dicat dengan cat yang dicampur timbal.
- Alirkanlah air keran untuk 15-30 detik sebelum diambil airnya, untuk menghindari timbal yang mungkin bocor dan keluar dari pipa.
- Jauhkanlah semua benda yang mengandung timbal dari anak-anak.
- Seringkali bersihkan muka dan tangan anak. Bersihkan rumah dari debu tiap hari.
Merkuri /Air raksa ( Hg)
Merkuri adalah sejenis metal yang terjadi secara alamiah dan mempunyai berbagai bentuk. Metal merkuri adalah cairan yang mengkilat berwarna putih-perak, dan tidak berbau. Bila dipanaskan ia menguap menjadi gas yang tak berwarna dan tak berbau.
Merkuri-inorganik atau disebut juga garam merkuri adalah campuran merkuri dengan elemen-elemen seperti chlorine, sulfur atau oksigen, berbentuk bubuk putih atau kristal.
Bila bergabung dengan karbon, merkuri membentuk merkuri-organik. Yang paling sering ditemui adalah methylmerkuri yang dibuat oleh jasad renik dalam air atau tanah. Makin banyak merkuri di lingkungan, makin banyak methylmerkuri dibuat oleh jasad renik tersebut.
Metal merkuri dipakai untuk membuat gas chlorine dan caustic soda, juga dipakai dalam thermometer, tambalan gigi dan batu batere. Garam merkuri kadang-kadang dipakai dalam krim muka sebagai pemutih, juga dalam krim antiseptik dan salep.
Darimana datangnya merkuri ?
- Merkuri inorganik (garam merkuri) dihasilkan oleh pembakaran batu bara, pabrik2 yang memakai bahan merkuri dan pertambangan merkuri. Merkuri yang berupa debu terbang melalui udara.
- Merkuri masuk ke dalam air atau tanah dari pembuangan sampah, dan letupan gunung berapi.
- Methylmerkuri terbentuk dalam air dan tanah oleh jasad renik yang disebut bakteri.
- Methylmerkuri diserap oleh ikan. Makin besar dan makin tua ikan tersebut, makin tinggi paparan merkuri dalam tubuhnya.
Bagaimana manusia terpapar oleh merkuri ?
- Makan ikan atau kerang yang terpapar methylmerkuri.
- Menghirup udara yang mengandung uap merkuri dari pembakaran, incinerator dan industri yang memakai merkuri sebagai bahan bakar.
- Menghirup uap merkuri yang lepas dari tambalan gigi, mendapat suntikan yang mengandung merkuri.
- Menghirup udara yang terkontaminasi uap merkuri di tempat kerja, dan kontak melalui kulit ( dokter gigi, pekerja kesehatan, kimia dan industri yang memakai merkuri misalnya pabrik termometer dan lampu neon).
Pengaruh merkuri terhadap kesehatan :
- Susunan saraf pusat sangat peka terhadap semua jenis merkuri.
- Methylmerkuri dan metal-merkuri lebih berbahaya dari jenis lain, oleh karena dalam bentuk ini merkuri bisa sampai ke otak. Paparan yang tinggi terhadap metal-, inorganik-, dan organik- merkuri bisa menyebabkan kerusakan yang permanen pada otak, ginjal dan janin yang sedang berkembang. Dampak terhadap fungsi otak bisa berupa iritabilitas (mudah marah), rasa malu, tremor (gemetaran), gangguan penglihatan, pendengaran dan memori (daya ingat).
- Suatu paparan jangka pendek pada kadar yang tinggi dari uap metal-merkuri bisa menyebabkan kerusakan paru, rasa mual, muntah, diare, peninggian tekanan darah dan detak jantung, gangguan pada kulit dan iritasi mata.
Bagaimana pengaruh merkuri terhadap anak ?
- Makin muda seorang anak makin peka terhadap pengaruh merkuri.
- Pada saat pembentukan janin, ia bisa mendapat paparan merkuri dari ibunya, bila ibu tersebut juga terpapar merkuri yang selama itu menumpuk dalam tubuhnya, terutama tulangnya.
- Begitu juga merkuri bisa sampai pada bayi melalui air susu ibu.
- Merkuri yang terpapar pada janin melalui ibunya bisa menimbulkan kerusakan otak, retardasi mental, gangguan koordinasi, buta, kejang, dan gangguan bicara.
- Anak-anak yang teracuni merkuri bisa mengalami kerusakan pada susunan saraf, saluran pencernaan dan ginjal.
Cara menghindari risiko paparan merkuri :
- Hati-hati membuang benda yang mengandung merkuri seperti termometer dan lampu neon.
- Bila merkuri jatuh dilantai, jangan memakai penghisap debu (vacuum-cleaner), oleh karena merkuri tersebut akan menguap dan bahaya untuk terhirup.
- Ajarkan anak-anak untuk tidak bermain dengan cairan yang mengkilat dan berwarna perak.
- Hati-hati membuang obat yang mengandung merkuri. Jauhkan dari anak-anak obat-obat tersebut.
- Hindari tambalan gigi yang memakai merkuri (amalgam).
- Hindari makan ikan laut terlalu banyak.
Dr. Melly Budhiman SpKJ, Maret 2004.
Dimuat di Buletin YAI pada tahun yang sama.
Mono Processing pada Individu Autis
Ibu Ina merasa sangat frustrasi karena sudah berbulan-bulan tidak berhasil mengajarkan Azka, anaknya yang autis, untuk berbicara sambil memandang matanya. Setiap kali Azka melakukan kontak mata, mulutnya seolah terkunci karena tidak satu katapun yang keluar. Padahal Azka bukannya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan karena sudah dilatih terus menerus. Azka biasanya bisa memberikan jawaban-jawaban yang benar atau mengekspresikan keinginannya secara verbal, asalkan ia melakukannya sambil memandangi lantai atau ke arah lain. Ibu Ina menjadi bingung karena bila sedang bermain dan bercanda anaknya ini justru sangat suka memandang wajahnya, sementara bila diajak berbicara Azka justru lebih suka ‘melengos’.
Pengalaman di atas juga dialami oleh para orangtua lain yang memiliki anak autis. Cukup banyak orangtua yang harus memegangi wajah anaknya agar mau memandang lawan bicaranya. Sayangnya cara ini bukannya mebantu anak untuk lebih berkonsentrasi, tetapi justru mempersulit anak untuk mengolah informasi yang masuk dan berespon secara benar. Mengapa demikian ? Sebab anak-anak autis memiliki cara pengolahan informasi yang berbeda dengan anak-anak non autis. Mereka memproses informasi secara mono, artinya tidak dapat mengaktifkan seluruh indera secara bersamaan dan efektif. Jika mereka harus bicara (aktivitas yang amat sulit bagi anak autis), maka akan sulit bagi mereka untuk secara bersamaan memperhatikan orang lain atau mengerjakan tugas lain.
Menurut Donna Williams, kecenderungan mono ini merupakan sumber dari berbagai masalah lain seperti kontrol diri dan toleransi terhadap stimulus lingkungan. Sebagai individu autis, ia terus menerus harus beradaptasi dengan lingkungannya untuk bisa memahami dunia dan orang-orang di sekitarnya. Sampai dewasapun ia tetap mengalami banyak kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dunia luar dirasakannya sebagai tempat yang tidak aman, hingar-bingar dan membingungkan sehingga ia lebih suka menarik diri dan berada dalam ‘dunia’nya. Kecenderungan MONO ini sudah tentu memperlambat pengolahan informasi dari luar sehingga berakibat terlambatnya pula respon yang muncul. Tidak jarang respon yang diberikan tidak sesuai atau salah karena informasi yang datang terus menerus atau terlalu banyak kemudian menumpuk dan tidak dapat diproses secara efektif.
Bagi kita yang memiliki kemampuan multi-tracked, masalah yang disebutkan di atas mungkin tidak pernah kita alami. Pada umumnya kita dapat mengolah informasi melalui beberapa indera secara bersamaan yang dilakukan secara efisien dan konsisten. Misalnya saja, sambil menonton film kita dapat mendengarkan percakapan para pemain, mendengarkan musik yang menyertai film, makan popcorn dan bahkan sekali-sekali mendiskusikan film tersebut dengan teman di sebelah kita. Ibu-ibu yang ‘sibuk’ dapat mengobrol di telpon atau mengerjakan tugas-tugas kantor sambil mengawasi anak mereka yang sedang bermain di dekat mereka. Ini berarti bahwa kita mampu memahami hal-hal yang terjadi di lingkungan, menyimpannya sebagai pengalaman dan memikirkan tentang apa yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Sistem pengolahan informasi yang kita miliki dapat digambarkan sebagai sejumlah kereta api yang berjalan bersamaan tetapi tidak saling bertabrakan.
Kesulitan lain yang dialami individu autis adalah dalam mengakses ingatan dan memonitor diri. Bila kita mengalami kejadian tertentu, kita biasanya akan mengakses informasi dari pengalaman-pengalaman masa yang tersimpan dalam memori. Cara ini memungkinkan kita untuk mengetahui bagaimana perasaan, pikiran dan tingkahlaku kita pada situasi-situasi yang sama. Dengan demikian kita akan tahu apa yang harus dilakukan berdasarkan pengalaman kita yang terdahulu. Pada individu autis, mereka bisa memproses arti dari kejadian yang dihadapi tetapi tidak dapat atau mengalami kesulitan untuk mengakses informasi dari memori. Akibatnya mereka tidak tahu harus berbuat apa dan cenderung menghindar atau lari dari situasi tersebut. Disamping itu mereka juga kesulitan dalam memonitor ekspresi diri seperti gerakan, bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, volume suara, dan penggunaan kata-kata. Tidak adanya kapasitas monitoring yang efisien ini menyebabkan mereka kesulitan untuk mengekspresikan diri sesuai dengan harapan sosial.
Sebagai adaptasi dan kompensasi terhadap keterbatasan-keterbatasan tersebut, penyandang autisme melakukan beberapa cara. Pertama, mereka mengaktifkan satu indera saja dan menutup yang lainnnya dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas pengolahan informasi. Kedua, secara bergantian memperhatikan diri sendiri dan orang lain. Artinya, setelah mereka memperoleh informasi dari luar, mereka akan memfokuskan pada pemberian arti terhadap stimulus dan merencanakan respon yang akan diberikan. Setelah itu barulah mereka dapat kembali memberi perhatikan orang lain. Cara ini dilakukan berulang-ulang. Ketiga, mereka melakukan rote-learning yaitu menghafal informasi yang diterima secara apa adanya (kita sering menyebutnya sebagai menghafal mati). Strategi ini menyebabkan banyak anak autis yang menonjol dalam kemampuan matematika dan menghafalkan nama-nama. Namun demikian, bila diterapkan dalam interaksi sosial maka yang tampak adalah perilaku yang stereotipi.
Dengan memahami cara-cara yang dilakukan individu autis dalam memproses informasi maka kita sebagai orangtua, terapis dan guru perlu memperhatikan cara-cara penyajian informasi agar dapat lebih mudah mereka pahami. Informasi yang kita berikan haruslah jelas, singkat, kongkrit dan diberikan secara bergantian dalam jangka waktu yang tidak terlalu cepat. Kita harus menyadari bahwa memang benar anak-anak autis membutuhkan stimulasi sejak usia dini, tetapi stimulasi yang berlebihan justru akan merugikan bagi mereka.
Sumber : Williams, Donna. 1996. Autism : an inside-out approach. Jessica Kingsley Publishers.
Pengamatan atas Pendidikan Anak Autistik Terkini
Pendidikan inklusi sudah sejak beberapa tahun terakhir ini dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional RI melalui himbauan kepada para sekolah untuk menerima anak autistik yang dituangkan dalam berbagai peraturan. Pertanyaannya, bagaimanakah pelaksanaan himbauan itu di lapangan? Bagaimanakah bentuk pendidikan yang ideal bagi komunitas ini? Apa peran masyarakat dan pemerintah khususnya untuk membuat segalanya menjadi mungkin?
Gangguan Spektrum Autistik
Gangguan perkembangan ini pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner di tahun 1943. Dengan berjalannya waktu, berbagai ciri yang semula secara khas menandai setiap individu autistik, makin bervariasi bentuknya. Ciri khas yang biasanya ditemukan, seringkali tidak tampak kasat mata dan pada akhirnya tertampil dalam bentuk yang tidak khas ataupun berbeda variasi. Misal, kesulitan anak untuk tatap mata, tidak lagi menjadi ciri utama gangguan ini karena banyak anak autistik yang tetap bisa tatap mata meski masih memiliki gangguan lainnya. Atau, perilaku mengepakkan tangan, ataupun kecenderungan untuk tidak mau dipeluk, bukan lagi hal-hal utama yang menjadi tolok ukur apakah seorang anak dinyatakan autistik atau tidak.
Gejala utama gangguan spektrum autistik yang harus ada untuk dapat dikatakan sebagai autistik, adalah kesulitan untuk berinteraksi secara kualitatif, kesulitan untuk berkomunikasi secara efektif, dan kecenderungan adanya perilaku stereotipi, apapun bentuknya. Semua gejala ini harus muncul sebelum usia tiga tahun.
Biasanya gangguan ini juga disertai permasalahan proses informasi, yang tentu saja mempengaruhi bagaimana seorang individu autistik belajar, baik di dalam maupun di luar kelas. Kadang ada juga masalah sensori yang juga dapat menghambat individu berbaur di lingkungan masyarakat.
Adanya variasi manifestasi gejala yang begitu beragam, membuat kebutuhan komunitas ini juga menjadi sangat beragam. Kebutuhan disini tentu saja juga mencakup masalah kebutuhan akan pendidikan.
Pendidikan untuk siswa autistik saat ini
Berbicara mengenai pendidikan, pemerintah sudah mencanangkan agar semua sekolah memberikan kesempatan kepada individu autistik untuk bergabung dalam bentuk pendidikan inklusi. Permasalahannya adalah, apakah kemudian penanganan berhenti pada masalah penerimaan saja? Tentu saja tidak. Agaknya sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pencanangan aturan harus ditindaklanjuti dengan pelatihan kepada sumber daya manusia terkait, khususnya para guru di kelas. Pelatihan bukan saja mengenai bagaimana mengupayakan proses belajar mengajar yang optimal, tetapi bagaimana menjembatani masalah hambatan komunikasi, ataupun penanganan masalah perilaku yang mungkin saja terjadi di kelas. Para guru juga harus tahu bahwa masalah bullying merupakan masalah nyata dan serius, serta bahwa para siswa ini harus diberi bekal untuk berbaur dengan masyarakat, bukan sekedar memenuhi target belajar di kelas saja. Penggunaan alat bantu apa yang efektif agar siswa memahami konsep abstrak dengan baik, serta bagaimana memastikan ilmu yang diperoleh dapat digeneralisasikan di lingkungan kehidupan sekitar. Intinya, para guru harus belajar lagi.
Selain pelatihan keterampilan penanganan anak autistik kepada para guru, penting juga memberikan pengertian kepada sekolah bahwa ada beberapa jenis inklusi. Tidak semua siswa dapat menjalani sistim ‘full inclusion’, dan untuk itu ada baiknya mempertimbangkan penanganan sistim ‘partial inclusion’ maupun ‘social mainstream’.. Fakta di lapangan membuktikan bahwa pihak sekolah belum semua paham mengenai adanya berbagai konsep inklusi tersebut, sehingga juga tidak paham bahwa kebutuhan siswa yang beragam dapat terjawab oleh jenis pelayanan yang berbeda pula.
Ketidaktahuan pihak sekolah berkaitan pula dengan keberanian masing-masing sekolah untuk melakukan modifikasi demi tercapainya tujuan pendidikan yang berbeda bagi setiap siswa. Mengacu pada kebutuhan yang beragam, tentunya bijak menetapkan tujuan pendidikan yang beragam, agar kebutuhan tersebut terjawab dengan tepat guna. Sekolah yang fokus pada memberikan jawaban atas beragam kebutuhan, akan berani melakukan modifikasi pada kurikulum yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Nasional, sehingga anak tetap belajar efektif tanpa harus mengorbankan berbagai tahap perkembangan lainnya.
Banyak sekolah juga belum paham bahwa kebijakan pemerintah juga berkaitan dengan kebijakan mengenai kriteria selesai sekolah yang sudah dapat diberlakukan kepada para siswa. Bahwa ada istilah ‘tamat’ selain istilah ‘lulus’, tampaknya juga masih banyak yang belum paham. Bahkan bahwa ada ujian kesetaraan pun, masih banyak yang belum paham prosedur pelaksanaannya sehingga kesemuanya belum terlaksana tepat guna.
Harapan akan pendidikan untuk siswa autistik di masa datang
Mengingat bahwa gangguan spektrum autistik termanisfestasi dalam berbagai kondisi dan gejala, penting mengingat bahwa kebutuhan pendidikan bagi komunitas ini jelas sangat beragam. Tidak semua akan terjawab dengan konsep sekolah inklusi.
Bagaimana dengan para siswa yang tidak mampu bicara, meski mampu berkomunikasi dan memiliki kecerdasan rata-rata? Bagaimana dengan para siswa yang memiliki gangguan sensoris sehingga tidak dapat menjalani pendidikan di sekolah karena terganggu oleh bisingnya suara siswa lain? Belum lagi, para siswa di pelosok yang akan kesulitan bersekolah, apalagi menjangkau sekolah inklusi yang belum sampai ke pelosok tanah air kita yang sangat luas ini… Lalu para siswa autistik yang bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri…
Sebaliknya, bagaimana dengan para siswa yang sudah selesai menjalankan pendidikan dasar, kemudian kesulitan mencari sekolah lanjutan yang juga menjalankan konsep inklusi. Atau, siswa yang sudah menyelesaikan pendidikan lanjutan, dan kesulitan mencari lapangan pekerjaan.
Kesemua hal tersebut di atas, sebetulnya dapat dijawab oleh Kementerian Pendidikan Nasional, karena Kementerian ini membawahi berbagai Direktorat Pendidikan seperti pendidikan luar biasa, pendidikan luar sekolah, pendidikan tinggi…. sehingga semua hal yang berkaitan dengan pendidikan, apapun bentuknya, dapat dijawab oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Misalnya saja, bagi siswa yang tidak mampu bicara tetapi dapat berkomunikasi dan memiliki kecerdasan rata-rata; sekolah luar biasa khusus autisme dapat menjawab kebutuhan mereka karena setiap anak akan dibuatkan kurikulum pribadi yang terus menantang mereka untuk maju. Siswa yang sulit berbaur karena masalah sensoris, termasuk juga siswa di daerah terpencil, diharapkan dapat memanfaatkan pembelajaran melalui sistim ‘sekolah rumah’ atau homeschooling. Mereka yang tidak mampu menolong dirinya sendiri, dapat diarahkan untuk berlatih menolong diri sendiri di sekolah luar biasa yang biasanya menerima siswa dengan kecerdasan terbatas.
Sebaliknya, para siswa yang sudah selesai pendidikan dasar dapat menjalankan pendidikan khusus yang melatih keterampilan untuk berdikari seperti fotografi, disain, musik, dan berbagai pendidikan setara akademi lainnya. Mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan tinggi se-tingkat sarjana, dapat dibantu dengan pelatihan kewirausahaan, manajemen, yang dapat memberi bekal agar mereka dapat menghidupi dirinya sendiri serta berbaur di masyarakat.
Pendidikan adalah hak setiap manusia, termasuk siswa dengan kebutuhan khusus, yaitu mereka yang memiliki gangguan spektrum autistik. Pendidikan bertujuan untuk memberikan bekal agar setiap insan memiliki masa depan dengan kualitas hidup yang baik, bagaimanapun bentuknya. Pendidikan seharusnya dapat dijangkau oleh setiap insan di tanah air, baik di kota besar maupun di pelosok tanah air, tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga, sosial, maupun ekonomi. Untuk itu tentunya perlu berbagai perubahan dalam sistim, agar terjadi pendidikan ideal bagi semua siswa autistik di tanah air.
Kesadaran akan semangat pemerataan pendidikan di tanah air ini tampaknya sudah mulai tertanam di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional, dan akan menjadi sempurna bila diikuti oleh pelaksanaan di lapangan secara tepat guna.
Semoga.
Jakarta, 6 Maret 2010.
Dra. Dyah Puspita, MSi – psikolog
Sekretaris Yayasan Autisma Indonesia

